BONTANG – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bontang menyoroti pola pengiriman Pertalite dari Pertamina ke SPBU yang dinilai turut memengaruhi munculnya antrean.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Bontang, Awinardi, meminta distribusi tidak hanya memperhatikan jumlah pasokan, tetapi juga waktu kedatangannya.
Menurutnya, pengiriman pada waktu yang kurang tepat dapat menciptakan jeda penjualan. Kondisi tersebut membuat stok di SPBU habis sebelum pasokan berikutnya tiba.
“Kalau barang itu (BBM) datang jam 11 siang, maka bisa jualan dari jam 11 siang sampai jam 11 malam. Artinya sekitar 12 jam kita bisa jualan,” jelasnya, Senin (31/8/2026).
Ia kemudian menggambarkan kondisi berbeda apabila pasokan hanya 8 KL dan datang lebih siang. Stok yang tersisa dapat habis pada pagi hari sehingga terjadi kekosongan sebelum mobil tangki kembali melakukan pengiriman.
“Tutup SPBU, pagi jualan habis sampai jam 10 pagi atau jam 11 siang. Maka ada waktu jam 12, 1, 2, 3 diantar lagi. Ini kan masalah edaran, Pak!” tegas Awinardi.
Karena itu, DPRD mendorong Pertamina mengutamakan pengiriman pada shift pertama. Awinardi bahkan mengusulkan lima SPBU di Bontang memperoleh pasokan secara bersamaan untuk mempercepat perputaran BBM.
“Antar di shift 1 di lima SPBU bersamaan di jam 11, kemudian kasih standar minimal 16 KL.” pinta Awin.
Politikus Partai PDI-Perjuangan ini juga menjelaskan, pola distribusi juga tetap harus fleksibel. Ketika kondisi permintaan menurun, jumlah pasokan bisa disesuaikan. Sebaliknya, ketika antrean meningkat, Pertamina dapat memberikan tambahan pasokan.
“Kalau kondisi sedang dingin, berarti pasokannya kita sesuaikan. Kalau sedang panas (banyak), maka kita tambah pasokannya,” tegas Awing mengumpamakan.
Menanggapi persoalan waktu pengiriman tersebut, Sales Branch Manager (SBM) Kaltimut III Fuel Pertamina, Hermawan Bagus Prabowo, mengakui terdapat kendala dalam ritase mobil tangki menuju Bontang.
Pengiriman ke Bontang selama ini harus menyesuaikan pola kerja pengemudi dan operasional depot. Mobil tangki atau AMT memiliki waktu kerja sekitar 12 jam, sementara operasional depot mencapai 16 jam.
“Ketika ritase mereka di pagi hari itu diutamakan ke Kota Bontang, maka dari mereka akan balik lagi di tengah jalan ada masalah dan lain-lain tidak bisa mengisi di kota-kota. Makanya dimaksimalkan dapat dua ritase dalam satu harinya,” jelas Hermawan.
Ia menjelaskan, pola tersebut membuat pengiriman ke sejumlah wilayah harus diatur agar mobil tangki dapat menyelesaikan maksimal dua ritase dalam sehari. Namun, Hermawan mengakui pola tersebut masih perlu diperbaiki, terutama ketika Bontang mengalami lonjakan permintaan.
“Kami menyadari bahwa kami terjadi ada kekurangan. Kami mengatakan optimalisasi mobil tangki, sehingga ke depannya kalau ada momen situasional kembali, dan ada waktu untuk Bontang, kami akan melakukan evaluasi ke atas,” terangnya.
Ia bahkan berencana mengevaluasi pola pengiriman bersama pihak depot agar Bontang dapat memperoleh prioritas lebih baik.
“Insyaallah besok saya evaluasi ke depot. Kami berharap nanti di depot bisa mempertimbangkan bahwa Kota Bontang bukan lagi menjadi anak kedua dan seterusnya. Sekiranya nanti bisa menjadi prioritas pertama juga,” katanya.(Adv)












