Advertorial

47 Bayi Berisiko Stunting Ditemukan di Bontang Lestari, Bapperida Siapkan Intervensi Khusus

18
×

47 Bayi Berisiko Stunting Ditemukan di Bontang Lestari, Bapperida Siapkan Intervensi Khusus

Sebarkan artikel ini
(dok:ist)
(dok:ist)

BONTANG – Sebanyak 47 bayi berusia di bawah satu tahun di Kelurahan Bontang Lestari masuk dalam kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus dalam upaya pencegahan stunting.

Temuan itu terungkap dari hasil timbang serentak periode Januari–Juni 2026 dan menjadi dasar Pemerintah Kota Bontang menyusun intervensi yang lebih spesifik sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Data ini disebutkan dalam Rapat Koordinasi Hasil Timbang Serentak yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bontang bersama Puskesmas Bontang Selatan, Kelurahan Bontang Lestari, dan DP3AKB.

Kepala Bidang Pembangunan Manusia, Pemerintahan, Aparatur dan Kesejahteraan Rakyat Bapperida Bontang, Hasman, menjelaskan dari 47 bayi tersebut, tujuh bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (14,9 persen), enam bayi lahir prematur (12,8 persen), serta 11 bayi memiliki berat lahir antara 2 hingga 2,7 kilogram atau sekitar 23,4 persen.

“Kalau kita ingin menurunkan stunting secara nyata, maka sasaran intervensinya harus semakin spesifik. Bontang Lestari perlu kita petakan lebih rinci, terutama bayi dengan risiko sejak awal kelahiran, seperti berat badan lahir rendah, prematur, dan kelompok bayi usia 0–6 bulan,” ujar Hasman.

Sementara itu, Kepala Bapperida Bontang Syahruddin mengatakan penanganan stunting tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja, namun membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah kelurahan, kader, keluarga, hingga perangkat daerah yang berkaitan dengan perlindungan anak dan kesejahteraan masyarakat.

Ia juga menegaskan, agar hasil timbang serentak menjadi dasar langkah penyusunan intervensi yang lebih terarah.

“Data timbang serentak ini bukan sekadar angka. Di balik setiap angka ada anak, ada keluarga, dan ada masa depan Bontang yang harus kita jaga. Karena itu, intervensi harus fokus, tepat sasaran, dan dilakukan secara bersama. Bontang Lestari menjadi lokus yang harus kita kawal dengan serius,” ujarnya. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *