BONTANG – Persoalan ketinggian trotoar di sejumlah ruas jalan menjadi perhatian DPRD Kota Bontang. Pembangunan infrastruktur pedestrian diminta tidak hanya mengejar peningkatan badan jalan, tetapi juga memperhitungkan akses menuju rumah warga, tempat usaha, drainase dan ruang kendaraan.
Ketua Komisi C DPRD Bontang Alfin Rausan Fikry menilai persoalan elevasi harus dikaji sejak bagian paling bawah. Menurutnya, menaikkan permukaan dari sisi atas tanpa memperhitungkan kondisi eksisting justru dapat membuat trotoar terlalu tinggi.
Ia mencontohkan kondisi yang terlihat di Jalan Pattimura. Perubahan elevasi pada ruas tersebut dinilai membuat permukaan jalan dan trotoar tidak lagi proporsional dengan akses bangunan di sekitarnya.
“Kalau elevasi memang perlu diperbaiki, jangan hanya bagian atas yang ditambah. Justru kondisi di bawah harus dihitung dulu supaya hasil akhirnya tidak terlalu tinggi,” kata Alfin.
Menurut politikus Golkar tersebut, persoalan itu bukan hanya berdampak terhadap tampilan kawasan. Akses warga juga dapat terganggu apabila trotoar dan badan jalan memiliki perbedaan ketinggian yang terlalu besar. Bahkan, menurutnya lebar jalan yang seharusnya dapat digunakan untuk dua kendaraan berpotensi menyempit karena akses masuk ke rumah warga menjadi terbatas.
“Dampaknya bukan sekadar kelihatan kurang rapi. Warga akhirnya membuat akses sendiri. Jalan yang semestinya sekitar lima meter bisa efektif tinggal tiga meter,” timpalnya.
Alfin meminta pemerintah daerah melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mengevaluasi kembali desain pembangunan sebelum pekerjaan diterapkan di titik lainnya.
Ia juga mempertanyakan rencana peninggian badan jalan sebagai bagian dari penanganan elevasi. Kebijakan tersebut, menurutnya, harus dilihat secara menyeluruh karena dapat memengaruhi posisi trotoar maupun bangunan yang sudah lebih dahulu ada.
“Kalau jalan dinaikkan, sementara halaman depan sudah berada pada posisi tertentu dan bagian belakang lebih rendah, nanti trotoarnya malah bisa tenggelam. Perhitungannya harus dimulai dari kondisi awal,” tegasnya.
Karena itu, pembangunan trotoar dinilai tidak dapat dipisahkan dari kondisi infrastruktur lain di sekitarnya. Perencana perlu memperhitungkan rumah warga, saluran drainase, badan jalan hingga akses kendaraan secara bersamaan. Ia juga menilai apabila terdapat bagian yang lebih rendah dan memang perlu dinaikkan, penyesuaian seharusnya dilakukan pada titik tersebut. Bukan dengan terus menambah ketinggian pada bagian atas.
“Yang paling penting desainnya harus dibenahi dari awal. Kalau perencanaan sudah tepat, persoalan akses seperti ini seharusnya bisa dicegah,” tandasnya.(Adv)












