BONTANG – Antrean Pertalite di sejumlah SPBU Kota Bontang mulai mereda setelah Pertamina meningkatkan pasokan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut dinilai DPRD menjadi bukti bahwa kecepatan distribusi memiliki pengaruh besar terhadap situasi antrean di lapangan.
Wakil Ketua Komisi B DPRD Bontang, Awinardi, mengatakan pihaknya melihat perubahan kondisi antrean setelah beberapa SPBU mendapat pasokan lebih besar dibandingkan pola sebelumnya.
“Begitu ada kejadian kita woro-woro kemarin, tiba-tiba dibom dua hari, ada efeknya ternyata Alhamdulillah antrean sudah mulai mereda,” ujar Awinardi, Senin (31/8/2026).
Ia menilai kondisi antrean yang lebih terkendali tersebut perlu dipertahankan melalui pola distribusi yang mampu membaca perubahan permintaan masyarakat.
“Begitu kita coba bom tiga hari ini, kita bom, lihat efeknya. Lebih dingin kan. Lebih aman kan,” katanya.
Awinardi pun meminta Pertamina tidak menunggu sampai antrean memanjang untuk kemudian meningkatkan pasokan. Menurutnya, potensi lonjakan permintaan dapat diprediksi melalui sejumlah indikator. Salah satunya adalah perubahan harga BBM nonsubsidi. Ketika harga Pertamax naik, masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM nonsubsidi berpotensi beralih ke Pertalite.
“Misalnya kita tahu Pertamax naik. Otomatis kan orang memilih lebih baik ngantri Pertalite 20 menit daripada beli Pertamax. Itu jaga-jaga, berarti kabarkan ke sini, ke Pertamina.”
Dengan pola tersebut, koordinasi antara pemerintah daerah, DPRD, Pertamina, SPBU dan pihak terkait dapat dilakukan lebih awal. Ketika diprediksi terjadi peningkatan permintaan, tambahan pasokan bisa disiapkan sebelum antrean membesar.
Selain distribusi, Awinardi juga meminta data penyaluran diperbarui secara lebih detail. Menurutnya, informasi tidak cukup hanya mencatat jumlah BBM yang dikirim, tetapi juga harus mencatat sisa stok setelah SPBU berhenti beroperasi.
“Kalau hari ini dikirim 16 KL, dalam waktu dia tutup SPBU sisa berapa KL yang tersisa? Besoknya kita simulasi. Nah ketahuan itu nanti, oh sekian ini serapan kita.”
Ia menegaskan pengawasan distribusi merupakan tanggung jawab bersama. DKUMPP diminta ikut memperbarui data konsumsi sehingga dapat disinkronkan dengan data Pertamina.
Awinardi berharap evaluasi tersebut menghasilkan peta distribusi hingga akhir tahun. Dengan demikian, Pertamina dapat mengetahui kapan harus menambah pasokan dan kapan penyaluran dapat dinormalkan. Sehingga, pola tersebut dapat menjadi solusi agar masyarakat tidak kembali menghadapi antrean panjang, meski kuota tahunan Bontang tidak mengalami penambahan.
Menanggapi itu, Sales Branch Manager (SBM) Kaltimut III Fuel Pertamina, Hermawan Bagus Prabowo, membenarkan bahwa dalam kondisi tertentu Pertamina dapat memberikan tambahan pasokan atau extra topping kepada SPBU.
“Jikalau kondisi di Bontang dan sekitarnya memang dirasa perlu ada extra topping, kami siap memberikan seperti contoh tiga hari terakhir,” jelas Hermawan.
Menurutnya, dalam tiga hari terakhir sejumlah SPBU reguler mendapat tambahan pasokan hingga minimal 16 KL dengan mempertimbangkan volume tangki masing-masing SPBU yang bersifat situasional.
“Artinya, Pertamina tetap menyesuaikan distribusi dengan kondisi permintaan di lapangan dan alokasi yang telah ditetapkan. Dan Alhamdulillah Bapak Ibu semua merasakan tiga hari terakhir ini Kita semua rasakan sekarang mulai reda,” bebernya.(Adv)












