BONTANG – Pembangunan Polder Tanjung Laut yang baru berjalan sekitar 5 persen mulai mendapat keluhan dari warga sekitar. Dua rumah di RT 23, Kelurahan Tanjung Laut, dilaporkan mengalami keretakan yang diduga berkaitan dengan aktivitas alat berat di lokasi proyek.
Salah satu warga terdampak, Murin, mengatakan keretakan terlihat pada bagian dapur rumahnya. Rumah tersebut berada tepat di sekitar area pembangunan polder sehingga getaran dari pengerukan alat berat cukup terasa.
“Karena getaran proyek saat ekskavator mengeruk di dekat rumah, khawatirnya ambrol saja, Mas,” ungkap Murin.
Ia berharap kondisi bangunan warga yang terdampak segera mendapat perhatian. Kekhawatiran tersebut muncul karena pekerjaan masih terus berjalan, sementara proyek baru memasuki tahap awal.
Lurah Tanjung Laut, Andriayani, membenarkan adanya laporan kerusakan dari warga. Hingga kini, terdapat dua warga RT 23 yang menyampaikan keluhan mengenai keretakan rumah.
“Untuk saat ini baru dua warga yang melaporkan di RT 23,” ujar Andriayani.
Menurutnya, pihak kelurahan telah berkoordinasi dengan kontraktor pelaksana untuk menindaklanjuti laporan tersebut. Salah satu rumah warga bahkan telah mendapat penanganan pada bagian pondasi.
“Ada yang sudah diperbaiki pondasinya, kami juga sudah berkoordinasi dengan kontraktornya,” jelasnya.
Andriayani mengatakan kelurahan akan tetap menampung laporan masyarakat yang terdampak selama proyek berlangsung. Setiap aduan nantinya dikoordinasikan dengan pihak terkait untuk menentukan penanganannya.
Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam, juga meminta agar persoalan warga tidak dibiarkan berkembang tanpa penanganan. DPRD telah mendorong kelurahan menjadi wadah penyampaian keluhan sekaligus menjembatani komunikasi dengan kontraktor.
“Sudah kita hadirkan kelurahan, serta kontraktor,” kata Andi Faizal.
Ia menyebut kontraktor telah menyatakan kesiapan menangani dampak pembangunan, termasuk kerusakan pada rumah warga.
“Selain pembersihan jalan, mereka siap untuk melakukan perbaikan rumah yang terdampak,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Sanitasi (SAMSDA) DPUPR Bontang, Edi Suprapto, mengatakan laporan mengenai rumah warga yang retak telah diterima pihaknya. Keluhan tersebut juga sudah diteruskan kepada kontraktor.
Namun, perbaikan menyeluruh terhadap rumah warga direncanakan dilakukan setelah pekerjaan polder selesai. Langkah itu dipilih untuk menghindari kerusakan kembali akibat aktivitas pembangunan yang masih berlangsung.
“Biar tidak berulang. Kalau diperbaiki sekarang takutnya rusak lagi,” jelas Edi.
Diketahui, proyek Polder Tanjung Laut dikerjakan PT Bumi Lasinrang dengan nilai kontrak Rp 38,5 miliar dan ditargetkan rampung pada Desember 2026.(Adv)












