BONTANG – Status Kota Bontang dalam penilaian Indeks Inovasi Daerah (IID) mengalami penurunan dari kategori sangat inovatif menjadi inovatif pada 2025.
Kondisi itu menjadi perhatian Pemerintah Kota Bontang yang kini menggenjot seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menuntaskan kelengkapan data inovasi dalam waktu dua pekan demi mengembalikan predikat yang hilang.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Bontang, Syahruddin, saat membuka Ekspose Hasil Penilaian Mandiri Pemenuhan Data Indeks Inovasi Daerah (IID), Jumat 26 Juni 2026.
Menurut Syahruddin, hasil penilaian mandiri menunjukkan masih banyak perangkat daerah yang tingkat kelengkapan data inovasinya berada di bawah 50 persen.
Padahal, kekurangan dokumen pendukung dapat membuat inovasi yang telah diterapkan tidak memperoleh nilai optimal.
“Kita ingin kembali mengejar kategori sangat inovatif dengan nilai di atas 65. Karena itu, setiap inovasi harus didukung dokumen yang lengkap dan substansi yang kuat,” ujarnya.
Ia menegaskan inovasi tidak boleh dipandang sebagai kewajiban administratif semata, melainkan harus menjadi budaya kerja di setiap perangkat daerah. Menurutnya, inovasi merupakan instrumen penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Sebagai kota industri di Kalimantan Timur, lanjut Syahruddin, Bontang dituntut terus meningkatkan daya saing melalui berbagai terobosan yang lahir dari setiap perangkat daerah.
Ia juga mengingatkan waktu pemenuhan data IID hanya tersisa sekitar dua pekan. Seluruh OPD diminta segera melengkapi dokumen, memperbaiki administrasi, dan memastikan setiap inovasi memenuhi seluruh indikator penilaian.
“Kita sering sudah melakukan inovasi, tetapi tidak terdokumentasikan dengan baik. Akibatnya, ketika dinilai, bukti dukungnya belum memenuhi persyaratan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Kota Bontang, Ade Darmawan, menjelaskan setiap inovasi harus dilengkapi dengan identifikasi masalah, tujuan, manfaat, tahapan pelaksanaan, regulasi pendukung, dokumentasi implementasi, hingga bukti dampak yang dihasilkan.
Menurutnya, kelengkapan administrasi menjadi salah satu faktor penting dalam penilaian IID.
“Kadang inovasinya sudah bagus dan manfaatnya nyata, tetapi nilainya tidak maksimal karena dokumen pendukung belum lengkap. Dalam dua minggu ini yang kita kejar bukan hanya cepat, tetapi juga tepat dan sesuai indikator,” jelasnya.
Bapperida memastikan akan terus melakukan pendampingan kepada seluruh perangkat daerah agar proses pemenuhan data IID selesai tepat waktu dan target mengembalikan Bontang ke kategori sangat inovatif dapat tercapai. (Adv)












